Skip to main content

Misteri Carancas, Wabah Penyakit yang Ditimbulkan oleh Meteorit

Luar angkasa dikenal sebagai tempat yang tidak memiliki batasan. Ada begitu banyak objek terbang yang dapat ditemukan di luar angkasa. Mulai dari yang berukuran besar seperti planet dan bintang, hingga yang berukuran kecil seperti asteroid dan serpihan batu luar angkasa. 

Tidak jarang ada bongkahan batu luar angkasa yang jatuh ke Bumi akibat tertarik oleh gravitasi. Untungnya, karena Bumi dilindungi oleh lapisan atmosfer, bongkahan batu tersebut akan terbakar di atmosfer. Namun jika bongkahan batunya berukuran besar, bongkahannya akan jatuh ke permukaan Bumi sebagai meteorit.

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 15 September 2017 ini menjadi satu dari sekian banyak peristiwa jatuhnya meteorit di permukaan Bumi. Pada tanggal tersebut, penduduk di desa Carancas, Peru, tengah menjalankan aktivitasnya seperti biasa. 

Menjelang pukul 12 siang waktu setempat, tiba-tiba nampak kilatan bola api yang muncul di langit. Saking cerahnya cahaya yang dipancarkan oleh bola api tersebut, cahayanya bisa terlihat hingga berkilo-kilometer jauhnya.

Kemunculan mendadak bola api tersebut tak pelak langsung menarik perhatian warga setempat. Setelah melaju kencang di langit, bola api tersebut akhirnya jatuh menghantam tanah dan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras. 

Saking kerasnya gemuruh tersebut, bangunan-bangunan yang berada dalam radius 1 kilometer sampai mengalami kerusakan pada bagian jendelanya. Sahabat anehdidunia.com getaran tersebut juga sempat terdeteksi oleh detektor gempa yang ada di Bolivia, negara tetangga Peru.

Tidak lama setelah bola api tadi menghantam tanah, muncul awan raksasa berbentuk jamur. Saat awan tadi sudah menghilang, yang nampak kemudian adalah kawah sedalam 6 meter dengan diameter 13 meter. 

Bagian dalam kawah tersebut nampak dipenuhi oleh air, sementara bagian sekeliling kawah nampak berwarna hitam bak bekas gosong.

Bola api tersebut ternyata adalah meteorit. Karena dipenuhi oleh rasa penasaran, warga sekitar pun spontan berkumpul di sekitar lokasi jatuhnya meteorit. Tidak lama berselang, sejumlah petugas pemerintahan dan ilmuwan akhirnya tiba di lokasi untuk memeriksa meteorit tadi.

Berdasarkan pemeriksaan ilmuwan, meteorit yang jatuh di dekat Carancas ini memiliki diameter 3 meter, berat 12 ton, dan melaju dengan kecepatan 10.000 mil/jam saat masuk ke dalam atmosfer Bumi.

Ilmuwan menduga kalau meteorit ini aslinya adalah asteorid yang mengorbit di sekitar Mars dan Yupiter, namun kemudian melenceng keluar dari orbitnya dan terombang ambing di angkasa. Saat asteroid tersebut melintas di dekat Bumi, asteroid tadi tertarik oleh gravitasi Bumi dan akhirnya jatuh ke Bumi sebagai meteorit.

Meteorit yang Penuh Teka-Teki

Luar angkasa dikenal sebagai tempat yang tidak memiliki batasan Misteri Carancas, Wabah Penyakit yang Ditimbulkan oleh Meteorit
Meteorit yang Penuh Teka-Teki via mysteriousuniverse.org

Hal yang membingungkan ilmuwan adalah saat ada benda asing yang memasuki Bumi, maka benda tersebut harusnya terbakar hingga habis akibat bergesekan dengan atmosfer Bumi. Namun meteorit ini justru tiba di  permukaan Bumi dalam kondisi masih berukuran besar.

Ilmuwan juga penasaran kenapa meteorit ini memiliki suhu yang panas dan mengeluarkan semacam uap. Padahal normalnya benda langit memasuki Bumi dalam kondisi dingin. Kemudian tidak seperti meteorit yang satu ini, meteorit normalnya tidak mengeluarkan bau saat sudah jatuh di Bumi.

Jika semua hal tadi sudah membuat ilmuwan merasa bingung bukan main, maka misteri yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dalam rentang waktu beberapa hari sesudah meteorit ini jatuh di Bumi, sebanyak ratusan warga di sekitar lokasi jatuhnya meteorit mendadak jatuh sakit. 

Mereka yang sakit mengalami gejala-gejala seperti pusing, mimisan, muntah-muntah, diare, hingga ruam-ruam misterius di sekujur kulit. Banyak dari mereka yang kemudian harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Saat jumlah pasien semakin membludak, tenda-tenda darurat pun terpaksa didirikan untuk merawat pasien yang tidak kebagian ruang di dalam bangunan rumah sakit.

Situasi hanya semakin mencekam karena dokter yang menangani mereka juga tidak bisa menjelaskan asal muasal wabah ini. Tes darah yang dilakukan kepada para pasien gagal memberikan petunjuk yang meyakinkan.

Semakin memburuknya situasi membuat pemerintah Peru nyaris saja memberlakukan situasi darurat negara. Namun saat mereka yang sakit berangsur-angsur membaik dengan sendirinya, pemerintah setempat pun batal memberlakukan darurat negara. Lantas, apa sebenarnya penyebab wabah misterius ini?

Wabah Penyakit Akibat Meteorit

Luar angkasa dikenal sebagai tempat yang tidak memiliki batasan Misteri Carancas, Wabah Penyakit yang Ditimbulkan oleh Meteorit
Wabah Penyakit Akibat Meteorit via mysteriousuniverse.org

Karena wabah ini muncul tidak lama setelah insiden jatuhnya meteorit, dugaan kalau penyakit misterius ini disebabkan oleh meteorit pun langsung mengapung ke permukaan. Terlebih lagi karena mereka yang mendadak jatuh sakit sebelum ini memang diketahui pernah berkumpul di sekitar lokasi jatuhnya meteorit.

Namun jika memang itu penyebabnya, bagaimana cara meteorit tersebut membuat orang-orang di dekatnya mendadak jatuh sakit? Menurut salah satu pendapat, saat meteorit ini jatuh menghantam tanah, meteorit tersebut turut menyebarkan zat berbahaya ke dalam cadangan air tanah.

Pendapat ini tidak sepenuhnya diterima karena jika memang demikian adanya, maka harusnya yang jatuh sakit bukan hanya orang-orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi jatuhnya meteorit. Tetapi juga mereka yang tinggal jauh dari lokasi, namun turut mengkonsumsi air tanahnya.

Pendapat alternatif pun lantas diajukan bahwa sebelum meteoritnya jatuh, cadangan air tanah di lokasi sebenarnya sudah mengandung zat arsenik dalam dosis yang tidak berbahaya bagi manusia. Namun saat meteoritnya jatuh, terjadi reaksi kimia yang menyebabkan air di lokasi menjadi berbahaya untuk dikonsumsi.

Ada pula yang menduga kalau wabah misterius ini disebabkan oleh radiasi yang ditinggalkan oleh meteorit. Namun dugaan tersebut langsung terbantahkan setelah pengukuran kadar radiasi di lokasi meteorit menunjukkan kalau kadar radiasi yang ada di sana masih berada dalam rentang normal.

Kendati tidak ada radiasi berbahaya yang terdeteksi, ada bau sulfur yang tercium di lokasi jatuhnya meteorit. Munculnya bau sulfur tersebut diduga karena meteoritnya mengandung senyawa bernama troilit. Saat senyawa troilit mengalami penguapan, terciumlah bau sulfur dari meteorit tersebut.

Ilmuan juga sudah mengambil dan menganalisa potongan batu dari meteorit. Namun saat diperiksa, batu meteorit tersebut nampak normal dan tidak mengandung bahan yang bisa menimbulkan fenomena jatuh sakit massal pada manusia.

Saat tidak ada teori ilmiah yang bisa memberikan jawaban memuaskan, pendapat kalau fenomena ini aslinya disebabkan oleh hal-hal yang sifatnya gaib pun mulai merebak. Warga lokal meyakini kalau wabah yang menimpa mereka aslinya terjadi akibat kutukan. 

Saking percayanya mereka akan hal tersebut, walikota setempat sampai mengundang dukun untuk melakukan ritual mengusir kutukan. Dalam ritual tersebut, seekor bayi llama dijadikan tumbal dengan harapan kutukan yang tengah menimpa warga setempat segera berlalu.

Peristiwa jatuhnya meteorit di Carancas memang masih kalah spektakuler jika dibandingkan dengan meteorit raksasa yang jatuh di Tunguska, Rusia. Namun munculnya wabah misterius pasca jatuhnya meteorit di Carancas menyebabkan peristiwa tersebut tetap menjadi bahan perbincangan panas hingga sekarang.

Jika sudah begitu, manusia hanya bisa berharap bahwa fenomena serupa tidak akan kembali terulang di kemudian hari. Teknologi memang sudah jauh berkembang, namun masih banyak hal yang belum diketahui manusia terkait benda-benda misterius yang berasal dari luar Bumi.


Sumber :

https://mysteriousuniverse.org/2021/01/the-strange-case-of-the-mysterious-carancas-meteorite-sickness/

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar