Skip to main content

Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam, sebabnya adalah dalam sistem perbudakan, seseorang dianggap bebas melakukan hal apapun kepada orang dianggap sebagai budaknya. Termasuk hal-hal yang sifatnya kejam dan tidak manusiawi jika memakai standar masa kini. Tidak mengherankan jika kemudian perbudakan kaum akhirnya dihapuskan oleh pemerintah Amerika Serikat sesudah perang saudara. Berikut ini adalah hal kejam yang pernah dialami oleh para budak  Amerika.

Dicambuk

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia
dicambuk via idntimes.com

Inilah metode hukuman yang paling sering digunakan oleh majikan untuk menghukum budaknya. Jika ada budak yang dianggap terlalu keras kepala atau membuat kesal majikannya, maka majikan tersebut akan langsung mencambuki budak tersebut. Saat dicambuk, budak tersebut akan diikat dengan posisi punggung menghadap ke arah majikan yang mencambuknya.

Jumlah cambukan yang diterima oleh seorang budak sendiri bisa berbeda-beda tergantung dari tingkat pelanggarannya. Menurut pengakuan mantan budak Austin Steward, ia kerap menerima cambukan sebanyak 39 kali untuk bermacam-macam pelanggaran.

Francis Fredric pernah melarikan diri dari majikannya. Saat ia berhasil ditangkap kembali 9 minggu kemudian, ia langsung dihukum 107 kali cambukan oleh majikannya. Moses Roper bahkan pernah dicambuk hingga 200 kali oleh majikannya. Majikan Roper baru berhenti setelah istrinya memohon-mohon agar suaminya berhenti mencambuki Roper.

Tidak jarang majikan merasa belum puas setelah mencambuki budaknya hingga terluka parah. Saat luka bekas cambukannya sudah mengering, sang majikan melumuri luka bekas cambukan tersebut dengan merica, minyak terpentin, atau bahkan lemak hewan yang sudah dicampur dengan pasir.

Akibat perlakuan kasar tersebut, tidak jarang seorang budak memiliki bekas luka yang begitu parah di punggungnya. Salah satu foto mengenai budak korban pencambukan yang paling terkenal adalah foto budak yang bernama Gordon. Foto Gordon kelak menjadi penyebab mengapa banyak orang yang bergabung menjadi tentara Amerika Serikat semasa perang saudara.

Dicap dengan Logam Panas

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia
Dicap dengan Logam Panas via idntimes.com

Branding adalah praktik menempelkan logam panas ke kulit hingga meninggalkan bekas luka gosong pada kulitnya. Praktik ini lazim digunakan di Amerika Serikat pada masa koboi untuk menandai hewan-hewan ternak miliknya. 

Selain digunakan pada hewan, ternyata branding juga pernah digunakan pada manusia di masa perbudakan. Perusahaan-perusahaan penjual budak kerap menggunakan metode ini pada budak miliknya supaya budak mereka bisa ditelusuri saat melarikan diri atau diculik untuk dijual kembali.

Saat perbudakan akhirnya dihapuskan, bekas branding kemudian berbalik menjadi senjata makan tuan. Banyak bekas budak yang menggunakan bekas branding untuk mematahkan klaim dari perusahaan budak kalau mereka tidak pernah menyiksa ataupun melakukan branding pada budak-budak yang mereka jual.

Selain untuk menandai budak, branding juga lazim digunakan sebagai metode hukuman. Jika ada seorang budak yang pernah melarikan diri, maka bagian kening budak tersebut akan diberi cap bertulisan huruf ‘R’ (huruf singkatan untuk “runaway” atau “pelarian”). Saat budak dengan tanda R dijual ke pemilik budak lain, maka tidak jarang budak tersebut bakal menerima perlakuan yang lebih ketat oleh majikan barunya akibat rekam jejak yang tercetak di keningnya tersebut.

Dirantai

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia
dirantiai via idntimes.com

Budak dan rantai merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dalam sejarah budak di Amerika. Banyak budak di Amerika yang diimpor langsung dari Afrika. Supaya budak-budak tersebut tidak bisa berulah selama perjalanan, para budak tersebut akan dirantai di dalam bilik kapal.

Majikan budak juga kerap merantai budaknya sendiri untuk memastikan kalau budak tersebut tidak bisa melarikan diri. Dalam kasus-kasus tertentu, sejumlah budak dirantai secara bersama-sama supaya bisa melakukan pekerjaan di lokasi yang sama. Praktik merantai yang terakhir ini kemudian diadopsi oleh penjara-penjara di Amerika Serikat untuk merantai para tahanan yang sedang melakukan kerja paksa.

Salah satu majikan budak yang dikenal kerap merantai budak-budaknya sendiri adalah Delphine LaLaurie. Ia dikenal kerap menyiksa budak-budaknya sendiri. Salah satu budak tersebut diketahui sudah berusia 70 tahun dan dirantai di dekat tungku perapian. Diduga sudah tidak tahan lagi dengan kondisinya, budak tersebut mencoba membakar dirinya pada tahun 1834 hingga rumah LaLaurie ikut terbakar.

Para tetangga LaLaurie spontan beramai-ramai mendatangi lokasi kebakaran. Namun mereka merasa bingung karena rumah sebesar itu nampak tidak memiliki satu budak pun. Saat mereka memeriksa seluruh bagian dalam rumah dengan lebih seksama, barulah mereka menemukan kalau budak-budak yang ada di dalam rumah tersebut menunjukkan tanda-tanda bekas penyiksaan. Salah satu budak bahkan ditemukan berada dalam kondisi dililit usus manusia.

Kendati praktik perbudakan masih merupakan hal yang lumrah pada masa itu, tindakan LaLaurie dianggap sudah terlalu keji. Massa pun kemudian beramai-ramai mendatangi rumah LaLaurie dan merusak rumah tersebut hingga rata dengan tanah. Nasib LaLaurie sendiri tidak pernah diketahui karena ia menghilang sesudah peristiwa tersebut.

Dibakar Hidup-Hidup

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia
ilustrasi Dibakar Hidup-Hidup via tribunnews.com

Pada Abad Pertengahan, membakar orang yang dituduh penyihir hidup-hidup merupakan hal yang cukup sering terjadi di Eropa. Di Indonesia, kasus maling yang dihakimi massa dan dibakar hidup-hidup juga pernah beberapa kali terjadi. Kalau di Amerika Serikat pada masa perbudakan, hal demikian pernah menimpa kaum budak .

Pada tanggal 6 April 1712, sejumlah budak di New York sempat melakukan pemberontakan. Di hari tersebut, sebanyak 23 budak yang dilengkapi dengan senjata tajam dan senapan melakukan pembakaran ke rumah seorang majikan budak. Sesudah itu, timbul bentrokan antara sejumlah budak dan majikannya. 

Seusai bentrokan, budak-budak yang masih hidup melarikan diri ke kawasan pelosok, namun berhasil ditangkap. Sebagian di antara mereka pada akhirnya tidak dijatuhi hukuman, namun sebagian lainnya dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Baru pada tahun 1799, pemerintah New York menghapuskan perbudakan di wilayahnya secara resmi. 

Dijadikan Kelinci Percobaan Medis

Perbudakan di masa kini dipandang sebagai hal yang kejam Perlakuan Kejam Budak Amerika, Bukti Perbudakan Adalah Salah Satu Aib Terbesar Umat Manusia
ilustrasi dijadikan Kelinci Percobaan Medis via kompas.com

Budak bukan hanya untuk dimanfaatkan tenaganya. Mereka juga sempat dijadikan kelinci percobaan di bidang kedokteran oleh kalangan profesional maupun pelajar. Tidak jarang percobaan yang mereka lakukan menyebabkan kematian atau cacat permanen pada budak yang menjadi sasaran percobaan.

Dalam salah satu percobaan yang dilakukan antara tahun 1833 hingga 1858, dokter mengambil otak dari seorang budak yang mengalami cedera pada kepalanya. Kelanjutannya sudah bisa kita duga. Budak tersebut meninggal dalam percobaan tersebut.

Contoh lain dapat ditemukan di tahun 1852. Pada tahun tersebut, seorang budak yang bernama Lucinda memiliki semacam benjolan besar di dekat mata kanannya. Dokter kemudian melakukan operasi dan mengangkat benjolan tersebut tanpa memakai kloroform, zat kimia yang lazim digunakan sebagai obat bius pada masa itu.

Percobaan-percobaan tadi hanyalah sebagian kecil dari percobaan medis yang pernah dilakukan oleh kalangan dokter kepada budak . Hal-hal berbahaya seperti terapi listrik, amputasi, hingga menggunakan eter sebagai obat bius pernah dilakukan oleh kalangan dokter di sepanjang abad ke-19 kepada para budak.

Penemuan 10.000 tulang manusia oleh para tukang bangunan di Augusta menjadi bukti tambahan mengenai maraknya percobaan medis kepada budak . Saat diteliti, tulang-tulang tersebut diketahui menunjukkan tanda-tanda pernah menjalani pembedahan.

Sahabat anehdidunia.com tunjukan dan awetkan sifat saling menyayangi antar sesama, tanpa peduli suku ras golongan dan agama. Damai itu sangat indah.

referensi :

https://listverse.com/2020/03/01/top-10-horrible-punishments-for-slaves-in-america/ https://spartacus-educational.com/USASwhipping.htm https://allthatsinteresting.com/madame-lalaurie https://www.smithsonianmag.com/smart-news/new-york-slave-revolt-1712-was-bloody-prelude-decades-hardship-180958665/ https://www.buzzfeednews.com/article/danvergano/cruel-medical-experiments-on-slaves-were-widespread-in-the-a

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar